Sebentar lagi, anak-anak akan kembali lagi menjalani kegiatan sekolahnya dengan kegiatan belajar offline setelah liburan sekolah. Anak-anak akan mengalami masa transisi dari sekolah online menjadi offline, akan banyak dilakukannya kembali kegiatan tatap muka, dan interaksi dengan teman dan guru sekolah. Siapkah anak kita menjalani masa transisi ini?

Menyambut peringatan Hari Keluarga Nasional di 29 Juni 2022, Danone Indonesia mengadakan kegiatan webinar dengan  tema Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi yang  menghadirkan pembicara dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, dan Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri.

Bicara Gizi

“Momen transisi menjadi kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, utamanya dalam perkembangan sosial emosionalnya. Anak usia dini pada dasarnya rentan karena mereka bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan paling dasarnya. Kami memahami bahwa anak membutuhkan lingkungan terdekatnya untuk merangsang dan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang optimal.”

“Sebagai perusahaan yang ramah keluarga, kami juga memberikan dukungan kepada para orangtua agar si Kecil dapat tumbuh optimal melalui pemberian cuti melahirkan bagi karyawan kami yakni cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah, aktif memberikan edukasi seputar kesehatan dan nutrisi untuk publik seperti halnya dalam Bicara Gizi, harapannya  kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kolaborasi orangtua agar  memberikan stimulus tepat untuk  mencapai keberhasilan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak.” Arif Mujahidin – Corporate Communications Director Danone Indonesia.

Hampir  dua tahun, pembatasan fisik dan sosial akibat pandemi menyebabkan masalah kesehatan yang mempengaruhi emosional, mental, dan perkembangan terutama pada anak. Anak-anak usia dini kehilangan tingkat interaksi yang merupakan tonggak penting bagi perkembangan sosial emosionalnya. Memasuki masa transisi, orang tua dan  anak mulai memiliki rutinitas baru dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial dan menuntut adanya upaya adaptif (menyesuaikan). Tiap keluarga diharapkan bisa merespon, tanggap atas perubahan yang diperlukan dan menguatkan fungsi-fungsi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

American Academy of Padiatrics 2012 , Maria dan Amalia (2016) menjelaskan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah kemampuan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif maupun negatif. Anak mampu berinteraksi dengan teman sebayanya atau orang dewasa disekitarnya secara aktif belajar dengan mengeksplorasi lingkungannya. Perkembangan sosial emosional adalah proses belajar anak dalam menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya yang diperoleh dengan cara mendengar, mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya.

Menurut Nurjannah (2017) perkembangan sosial emosional anak usia dini merupakan proses belajar pada diri anak tentang berinteraksi dengan orang disekitarnya yang sesuai dengan aturan sosial dan anak lebih mampu dalam mengendalikan perasaannya yang sesuai dengan  kemampuannya dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya yang diperoleh secara bertahap dan melalui proses penguatan dan modeling.

Jadi bisa  disimpulkan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah proses perkembangan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya kepada orang tua, teman sebaya dan orang dewasa. Proses perkembangan keadaan jiwa anak dalam memberikan respon terhadap keadaan dilingkungan yang sesuai dengan aturan sosial yang diperoleh melalui mendengar, mengamati, meniru dan dapat distimulasi melalui penguatan dan modeling (contoh).

Perkembangan sosial emosional anak merupakan perkembangan tingkah laku pada anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. pada masa ini proses anak belajar dalam menyesuaikan diri dengan norma,  moral dan tradisi dalam masyarakat.

Kemampuan menyesuaikan diri dengan baik akan memudahkan anak memiliki keterampilan dalam berteman dengan orang lain, karena itu yuk kita . latih anak aktif dalam berpartisipasi di lingkungannya. Aspek sosial emosional pada anak usia dini sangat penting dikembangkan sejak usia dini. Anak yang cerdas sosial emosionalnya akan memiliki  pergaulan luas, keterampilan kerja sama yang baik, yang akan berguna di masa depan.

Peran Orangtua Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap Bersosialisasi di Masa Transisi

Mengenai pola asuh, survei BKKBN mengungkapkan bahwa selama pandemi COVID-19, 71,5% pasangan suami istri telah melakukan pola asuh kolaboratif, 21,7% mengatakan istri dominan, dan 5,8% hanya istri saja. Di sisi lain, data UNICEF menyebutkan bahwa selama pandemi orang tua mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi, menilai pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri. Kondisi ini sangat mungkin menghambat kemampuan orang tua untuk mengatasi emosi dan kebutuhan psikologis anak.

Bicara Gizi

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Irma Ardiana, MAPS menjelaskan bahwa gaya pengasuhan akan memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusif untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga. “Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka

Peran orang tua yang tepat dalam memberikan dorongan, dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan adalah hal yang penting. Dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan.

Peran Tim Pendamping Keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga berisiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina Keluarga Balita. Pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas di masa depan.”

Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menjelaskan bahwa aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai semua aspek kehidupannya dan bersaing di fase kehidupan selanjutnya dimulai dari remaja hingga lanjut usia. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi saat ini.

“Bagi anak-anak, kebingungan menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial dapat meningkatkan masalah sosial-emosional yang dampaknya bisa berbeda tergantung dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Gangguan perkembangan emosi dan sosial dapat mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan di masa dewasa, seperti gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular.”

Bicara Gizi

Dokter Bernie juga menjelaskan mengenai fakta bahwa perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak agar anak dapat tumbuh menjadi anak hebat.

“Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat.” ujar dr. Bernie.

Dokter Bernie menjelaskan mengenai stimulasi sosial, emosional : Peran stimulasi, nutrisi dan keluarga

Perkembangan otak anak dimulai sejak ia berada di dalam kandungan. Pada saat kelahiran, otak anak berukuran 25% dari otak orang dewasa. Di tahun pertama akan berkembang sampai 50% dari otak orang dewasa dan berkembang sebanyak 80% dari otak dewasa di usia 3 tahun dan 90% dari otak orang dewasa  di  usia  5 tahun. (https://www.nutriclub.co.id/)

Ada 4 bidang utama perkembangan otak anak :

  • Sistem motorik (berhubungan dengan perkembangan fisik)
  • Bahasa dan komunikasi
  • Sosial dan emosional
  • Kognitif (kecerdasan)

Perkembangan otak adalah bagian dari perkembangan kognitif yang menggambarkan bagaimana kecerdasan anak tumbuh, mencangkup kemampuan berpikir, belajar dan memecahkan masalah. Keterampilan ini mempengaruhi semua bidang perkembangan yang lainnya.

PERKEMBANGAN OTAK (nestlehealthscience.co.id)

Perkembangan otak anak  mempengaruhi pertumbuhan mereka. Otak adalah pusat dari tubuh manusia yang tersusun dari milyaran sel saraf dan sejumlah jaringan pendukung yang saling terhubung untuk mengatur sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh.

Perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan. Dikatakan bahwa  usia emas pertumbuhan otak anak atau golden age ialah sejak ia dilahirkan sampai usia lima tahun.

Usia satu tahun, rata-rata ukuran otak bayi telah mencapai dua kali lipat dari ukuran otaknya saat lahir. Usia 2 tahun, berat otak sudah mencapai 75% berat otak orang dewasa. Akan terlihat  perkembangan emosinya dan rasa penasaran yang semakin tinggi.

1-2  tahun, anak juga sudah memiliki kemampuan mengenali benda, sampai menyusun kata-kata pertamanya. Khususnya pada umur 2 tahun, anak akan lebih terasah perkembangan motoriknya, mulai bisa berjalan, berlari dan melakukan lompatan-lompatan kecil.

3 tahun, jumlah sel-sel dan besaran volume otak anak sudah mencapai 80% dari otak orang dewasa. Jumlah sinapsis dalam otak pada dasarnya tiga kali lebih banyak dibandingkan \saat dewasa. Sinapsis adalah penghubung antara satu neuron dengan neuron lainnya.

Seiring perkembangannya, otak akan secara bertahap memangkas sinapsis dengan cara menghancurkannya. Otak akan mulai memfokuskan energinya pada koneksi yang penting dengan menyingkirkan koneksi yang tidak digunakan.

Di tahapan ini, anak sudah mulai masuk pada fase berhitung. Orang tua bisa mulai memberikan mainan atau buku cerita edukatif untuk menstimulasi kecerdasan anak. Anak juga sudah mulai memahami aturan-aturan yang diberikan oleh ayah dan ibunya, serta mulai memperlihatkan minat untuk berinteraksi sosial dengan orang di luar keluarganya.

Menjelang usia 5 tahun, perkembangan otak anak semakin menyesuaikan dengan pengalamannya. Peristiwa demi peristiwa dalam kehidupan si Kecil akan membentuk sinapsis secara langsung. Faktor lingkungan menjadi sangat penting pada perkembangan otak anak di usia ini.

Pengalaman negatif di usia ini pada anak bisa meninggalkan bekas luka psikologis yang dapat bertahan selamanya.Pengalaman ini juga bisa menjadi program intervensi dini untuk melatih anak agar lebih efektif dalam menghadapi pengalaman traumatis tersebut.

Di usia ini, otak anak berkembang memahami emosi pada dirinya dan orang lain. Mereka mulai memahami adanya nilai-nilai kepercayaan diri, usia ini lebih cenderung banyak bermain dan mencari teman seusianya.

Menjelang masa dewasa, meski ukuran otak anak terbilang sudah mendekati ukuran orang dewasa, tetapi perkembangan otaknya masih belum matang. Pada remaja, lobus frontal yang berperan penting untuk pengambilan keputusan, kontrol, dan empati belum menjadi terbentuk sempurna. Hal ini karena zat mielin pada lobus frontal belum penuh. Mielin adalah zat berlemak yang mengisolasi akson otak untuk membantu sinyal bergerak lebih cepat.

Di tahapan ini orang tua pun masih sewajarnya terus memantau perkembangan anak. Keluarga bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kepercayaan diri pada si Kecil. Anak-anak yang mulai maju mengadu kompetensi dengan sebayanya,  sebaiknya terus didampingi agar tumbuh semangat dan dorongan menjadi lebih maju.

Otak adalah organ pusat perkembangan anak yang sebaiknya dimaksimalkan pada masa perkembangannya. Perkembangan otak anak yang optimal dapat mempengaruhi kecakapan motorik, komunikasi, serta emosional si Kecil.

Dalam presentasinya Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menjelaskan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi  perkembangan, yaitu :

  • Faktor genetik
  • Nutrisi
  • Lingkungan : Stimulasi, Pola Asuh, Protektif : imunisasi, perawatan kesehatan

Dr. dr. Bernie menjelaskan perkembangan sosial emosional terjadi sejak bayi dilahirkan, emosi yang diperlihatkan sejak bayi lahir adalah marah, senang dan takut. Akan berkembang dengan bertambahnya usia, pengaruh dari lingkungan, dan mulai dari lingkungan terkecil yaitu ibu (bau ibu, suara, wajah)

PRINSIP STIMULASI ANAK : 

  • Stimulasi dilakukan sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak
  • Stimulasi dilakukan berulang kali
  • Tahapan perkembangan anak bersifat individual
  • Stimulasi untuk semua aspek perkembangan anak
  • Stimulasi dilakukan dengan rasa cinta dan kasih sayang, juga menyenangkan
  • Stimulasi dilakukan dengan bermain, jangan memaksa
  • Stimulasi bisa dilakukan dengan /atau tanpa menggunakan alat bantu/permainan sederhana dan aman
  • Beri anak reward

PRINSIP DASAR STIMULASI ANAK 

  • Stimulasi BUKAN untuk : mempercepat kemampuan anak, memaksa anak menguasai kemampuan yang belum siap untuk dikuasai pada usianya, TETAPI untuk mengenali dan mendorong anak mencapai potensi kemampuannya masing-masing secara individual, mengenalkan berbagai aktivitas yang sesuai untuk memperkuat rasa percaya diri, melakukan inisiatif dan kemampuan belajar anak.

PRINSIP PELAKSANAAN STIMULASI :

  • Merangsang semua fungsi dan kemampuan anak agar berkembang optimal
  • Dua arah
  • Fungsi sensorik, motorik, kognitif, komunikasi bahasa, sosio-emosional, kemandirian
  • Cara : rangsang suara, musikm gerakan, perabaan, bicara, menyanyi, bermain, memecahkan masalah, mencoret, menggambar.
  • Kapan : setiap kali interaksi dengan anak, misal memandikan, ganti baju, di jalan, bermain, dll, dan dilakukan berulang kali

 

CARA MENGAJARKAN SOSIAL EMOSIONAL PADA ANAK :

  • Anak senang meniru, karena itu contohkan oleh orang tua dalam mellalkukan hal yang simple
  • Libatkan anak dalam membuat keputusan di keluarga
  • Ajarkan empathi
  • Perluas wawasan dan pengalaman anak
  • Bicara pada anak dan jelaskan mengenai perasaan yang tidak nyaman misal marah, sedih, kesal
  • Ajarkan mereka melakukan sesuatu bersama dengan orang lain
  • Mengatur perasaan mereka
  • Mengajarkan anak banyak bersyukur
  • Saat anak salah jangan dikritik, tapi berikan penjelasan yang jelas atas situasi tersebut
  • Lakukan bedtime talk
  • Ajarkan bahwa hal baik itu tidak datang begitu saja

Perkembangan sosial emosional anak

Perkembangan emosional dan sosial anak usia dini ternyata tidak hanya tentang mengatur emosi yang ada di dalam dirinya, perkembangan emosional anak sangat berpengaruh pada perkembangan balita dan perilaku anak sampai usia dewasa.

Yang aku baca informasinya menurut Children’s Therapy and Family Resource Centre dari hellosehat.com, perkembangan emosional anak adalah salah satu tahap tumbuh kembang anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosi sendiri.

Dalam perkembangan emosional, anak mulai belajar menjalin hubungan dengan teman dan lingkungannya. Menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan juga sebuah proses untuk belajar berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi.

Dari Scan of North Virginia, perkembangan sosial anak adalah proses belajar dalam berinteraksi dengan orang lain. Selain mengembangkan rasa kemandiriannya, ia juga belajar bersosialisasi dengan anak seusianya.

Perkembangan sosial pada anak berhubungan dengan pertemanan, cara berinteraksi, dan menangani konflik dengan teman. Mengapa perkembangan sosial penting? Alasannya, ketika ia berinteraksi dengan orang lain, perkembangan yang lain juga ikut terbentuk, misalnya ketika bersosialisasi, anak akan belajar berinteraksi sekaligus mengasah kemampuan motoriknya. Kemampuan sosial dan emosional balita yang baik, berpengaruh pada kecerdasannya saat dewasa.

Semakin bertambahnya usia anak, kemampuan emosional si kecil semakin bertambah dan setiap anak memiliki tahapan perkembangan emosional yang berbeda.

Yuk kita mulai menjadi orangtua , yang harus mengetahui bagaimana pentingnya perkembangan sosial emosional anak usia dini, agar mereka bisa menyesuaikan perasaan pada saat berinteraksi dan mengatur emosi .

Kematangan sosial anak didapatkan jika berkomunikasi baik- baik dengan orangtua, keluarga, teman sebaya dan lingkungan sekitar.

Perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah sebuah proses menyesuaikan diri dan belajar pada anak usia dini,  dalam mengekspresikan emosi disekitar lingkungan hidup. Anak usia dini bisa berinteraksi dengan keluarga, lingkungan dan teman sebaya disekitarnya secara aktif untuk menyesuaikan diri terhadap moral dan norma –norma.

Manfaat anak usia dini diberikan sosial emosional :

  • Anak bisa belajar tentang adab sesuai dengan harapan orangtua/ keluarga (saling berbagi, meminta izin saat pinjam sesuatu)
  • Anak dapat menjalankan peranan sosial
  • Anak mampu mengembangkan sikap sosial emosional
  • Anak bisa  menyesuaikan diri dengan lingkungan

Emosi anak akan membaik, jika kita sebagai  orangtua memberi pengertian akan sesuatu hal atas kejadian yang dialami anak.

Proses perkembangan sosial emosional anak usia dini

Semakin bertambah tumbuh kembang anak usia dini , akan semakin mampu anak untuk mengontrol emosi. Emosi biasanya muncul saat terjadi peristiwa terjadi yang tidak diinginkan dan peristiwa yang diinginkan juga terjadi. Emosi  seseorang sangat mudah berubah dan reaksi sosial emosional akan muncul  berbeda-beda.

Ada beberapa perilaku sosial emosional terjadi :

  • Anak meniru
  • Anak suka berbagi
  • Anak memberikan miliknya kepada teman sebaya, bentuk kepedulian anak.

Emosi adalah perasaan yang terjadi ketika seseorang, saat ada di suatu kondisi yang terlibat dalam interaksi penting.

Dikutip dari hellosehat.com, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengasah perkembangan emosional dan sosial anak usia dini, yaitu:

  • Mengajarkan cara memecahkan masalah : saat kita berbicara dan berdiskusi dengan anak, agar anak nyaman posisikan sebagai pendamping , yang bisa menerima masukan. Arahkan anak berani bertanggung jawab dan memecahkan masalah yang dihadapi.
  • Beri anak ruang untuk mengekspresikan emosi, kita harus memberi contoh cara mengekspresikan emosi, luangkan waktu untuk curhat,

Dari www.orami.co.id, di 5 tahun pertama kehidupan anak, terjadi perkembangan fisik, bahasa, kecerdasan, perkembangan sosial emosional balita.

Dengan memerhatikan perkembangan sosial emosional anak, kita  orang tua akan bisa memastikan apakah anak kita sudah tumbuh dan berkembang sesuai usia. Mengidentifikasi masalah tumbuh kembang anak sejak dini penting, agar jika ada masalah tumbuh kembang, anak bisa ditangani segera.

Perkembangan Sosial Emosional Anak

Secara umum, perkembangan sosial emosional balita berkaitan dengan kemampuan anak untuk:

  • Memahami, mengatur, serta mengekspresikan emosi dan perasaan pribadi.
  • Memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.
  • Berinteraksi dengan orang lain secara baik dan dengan rasa menghargai.
  • Membangun hubungan yang positif dan bermanfaat dengan orang lain.

Kenali tahapan perkembangan sosial emosional balita, agar kita semakin mudah membentuk karakter positif dan melatihnya agar cerdas bersosialisasi.

Cara Mengembangkan Kemampuan Sosial Emosional

Kemampuan sosial emosional anak tidak hanya melibatkan kemampuan bekerja sama dengan teman seusianya. Untuk membantu anak-anak dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosionalnya. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

1. Mengajarkan Empati : menanggapi pertanyaan tentang emosi, anak-anak dapat mulai berpikir tentang bagaimana tindakan mereka sendiri dapat memengaruhi emosi orang-orang di sekitar mereka.

2. Melatih Kerja Sama : bermain dan berinteraksi, juga akan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah sosial. anak berinteraksi dan bermain dengan anak-anak lain , anak-anak akan belajar bagaimana bernegosiasi dan berkompromi dengan anak-anak lain.

3. Apresiasi Perilaku Baik

Berikan pujian saat anak menunjukkan perilaku sosial yang baik, agar bisa memotivasi anak untuk selalu berperilaku baik.

4. Dukungan Nutrisi : asupan nutrisi bergizi , berikan anak makanan yang mengandung makro nutrien, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak serta mikronutrien berupa vitamin dan mineral selama masa tumbuh kembangnya. Jangan lupa ASI ekslusif.

5. Jadilah Contoh yang Baik : jadi  orang tua yang memberikan contoh baik

Jangan lupa kita juga boleh berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak, jika merasa perkembangan anak kita terasa lambat/tertunda.

Bicara Gizi

Cici Desri, Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 menceritakan pengalamannya saat mempersiapkan si Kecil menghadapi transisi untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. “Setelah menjalani pembatasan sosial selama hampir dua tahun, saya melihat ada banyak tantangan yang dihadapi si Kecil untuk kembali bersosialisasi dengan dunia luar. Proses adaptasi pun tidak selalu berjalan dengan mudah, mulai dari kekagetan si Kecil yang bertemu dengan banyak orang baru, beraktivitas dan berinteraksi dengan banyak orang membuat si kecil kadang juga menjadi frustasi. Menghadapi hal tersebut, saya dan suami mengambil bagian dalam pengasuhan dan memperkuat keterlibatan dengan si Kecil terlebih pada fase transisi saat ini,” kisah Cici.

Cici menceritakan sebagai orangtua, ia dan suami, mendorong si Kecil untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal sehingga mereka dapat mengetahui apa yang dirasakan si Kecil secara emosional, juga menghubungi guru dan staf terkait lainnya di sekolah si Kecil untuk memantau cara si Kecil mengatasi dan mengikuti tugas atau kegiatan, dan berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang untuk mengetahui lebih jauh upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil.

“Kami memahami bahwa fase membangun hubungan baru merupakan sebuah keterampilan. Si Kecil bisa menguasainya dengan dukungan yang tepat, terutama dari keluarga. Melalui interaksi sosial secara tatap muka langsung, si Kecil mampu menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan berada di lingkungan barunya. Dengan begitu, saya yakin si Kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani, dan memiliki empati tinggi,” – Cici Desri, Inspiratif Founder Joyful Parenting 101.

Reff:

kampusitahnews.iain-palangkaraya.ac.id

Kompasiana.com dengan judul “Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini”