Artritis Rematoid dan Scleroderma , Obati Tuntas Demi Keluarga

Tulisan ini terinspirasi dari seseorang  yang hampir 2 tahun lebih sudah, tergolek tak berdaya akibat penyakit yang dideritanya, badannya yang semakin hari semakin terlihat mengecil dan terlihat seperti berusia 80 tahunan.

Uniknya beliau adalah seseorang yang tertutup dan mengambil jalan pengobatan dengan melakukan diet keto untuk penyembuhannya . Dalam tulisan ini, saya tidak menyalahkan diet keto tetapi lebih kepada kesiapan dan kondisi yang bisa menjalankan diet ini dengan baik.

Tulisan ini hanya semata, hanya bertujuan agar pembaca bisa memperoleh informasi mengenai penyakit medis yang dideritanya.

http://mediaindonesia.com/read/detail/145760-bukan-sekadar-turunkan-berat-badan tak sengaja saya temukan di google, dan akhirnya saya bisa mengetahui penyakit yang di deritanya  ternyata radang sendi jenis rheumatoid dan  scleroderma. Kedua penyakit ini  harus minum obat dokter seumur hidup ujarnya, dan ini menjadi alasan kuatnya untuk memulai diet keto sebagai metode penyembuhan.

3 anak dan 1 suami pun kini terbengkalai tak bisa lagi merasakan maksimal peran seorang Ibu dan istri, bahkan pekerjaan rumah sehari-haripun di handle oleh sang mertua, yang sudah pasrah dengan sikapnya dan menyesalkan keputusannya menjalankan diet tersebut. Entah kemanakah sosok yang dimaksud dalam tulisan tersebut, yang mengenalkan awalnya  pada Diet Keto.

Auto Imun

Autoimun
Dok : autoimunindonesia.org

Autoimun adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh terlalu aktif secara tidak wajar, sehingga kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi diri dari bakteri, virus, dan serangan asing lainnya, justru menyerang dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ sehat yang ada didalam tubuh.

Autoimun
Dok : www.slideshare.net/EvaMuslimahFarmasi/autoimun-dan-hipersensitivitas

Rheumatoid

Artritis Rematoid dan Osteoartritis atau kita kenal rematik, ternyata adalah dua penyakit yang berbeda. Artritis rematoid adalah penyakit autoimun dan disebabkan peradangan sendi. Peradangan pada sendi yang terkena bisa menimbulkan rasa nyeri, kaku, merah, dan bengkak.

Artritis Rematoid (AR) adalah penyakit sistemik, yang menyerang berbagai organ seperti jantung, paru, kulit, dan cenderung menyerang lebih dari satu persendian sehingga menimbulkan rasa kaku dan nyeri yang menyebar luas.

Salah satu ciri utama AR, menurut penjelasan Prof.Harry Isbagio, nyerinya simetris. Misalnya mengenai pada kedua pergelangan kaki atau pergelangan tangan. Juga dapat menimbulkan benjolan di bawah kulit, pada jari-jari, kaki, atau dekat siku. Waspadai jika bangun tidur terjadi kekakuan pada persendian lebih dari 30 menit dan berlangsung selama 6 minggu,”.

“Dan yang paling penting artritis reumatoid terjadi di kedua sisi tangan, kanan dan kiri. Artritis reumatoid banyak sendinya, Artritis reumatoid terjadi hampir di semua bagian sendi, termasuk sendi rahang, tulang dada, bahu, siku, pergelangan tangan, jari tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari kaki. Jika misalnya menyerang jari tangan, maka artritis reumatoid akan menyerang semua jarinya. Kutip  dr Andry Reza Rahmadi, SpPD, MKes, dokter spesialis penyakit dalam RS Hasan Sadikin Bandung di health.detik.com

Meski AR bisa menyerang semua usia, tetapi paling sering mengenai orang berusia antara 20-40 tahun dan jumlah penderita wanita tiga kali lebih banyak daripada penderita pria.

Di Indonesia, diperkirakan 360.000 orang menderita penyakit ini, ada lebih dari 100 jenis penyakit artritis, tetapi artritis rematoid adalah jenis artritis yang bisa menimbulkan kecacatan paling parah. “Jangan menganggap remah penyakit ini karena belum ada obat yang bisa menyembuhkan,” ujar Harryahli rematologi dari RSCM Jakarta.

Penderita AR sering mengalami deformasi sendi sehingga kehilangan mobilitas. Artritis rematoid bisa mengakibatkan  sakit di sendi-sendi tubuhnya, terutama saat naik turun tangga, berjalan jauh, atau mengerjakan sesuatu dengan jari-jari tangannya cukup lama.

Walaupun artritis rematoid tidak bisa disembuhkan, tetapi dunia kedokteran berhasil menemukan obat-obatan untuk mencegah perburukan penyakit sehingga penderita dapat hidup senormal mungkin. Obat-obatan untuk mengatasi AR dibagi dalam dua kategori, yakni yang menghilangkan nyeri, serta obat yang mengendalikan penyakit. “Obat yang memodifikasi penyakit tujuannya adalah mengurangi peradangan sehingga nyerinya berkurang, kerusakan sendi bisa dihentikan, serta memperbaiki fungsi sendi,” kata Harry.

Obat lain yang belakangan terus dikembangkan adalah obat biologis yang merupakan obat rekayasa genetika, salah satunya Tocilizumab. Obat ini memblokir zat kimia yang berperan dalam peradangan dan kerusakan jaringan. Keberhasilan obat tersebut sudah dibuktikan dalam studi klinis terhadap 4000 pasien di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Studi klinis lokal terapi Tocilizumab di Indonesia diberi nama PICTURE INA yang melibatkan 39 pasien.  dr.Arya Wibisono, Head of Medical Management Roche Indonesia, PICTURE INA yang dilakukan selama 24 minggu memperlihatkan hasil positif terhadap efikasi dan keamanan obat ini. “Setelah 24 minggu terjadi perbaikan nyata pada gejala artritis rematoid.

Sekitar 85,7 persen pasien mengalami pengurangan rasa sakit dan efek samping serius dari pengobatan ini kurang dari 5 persen,” kata Arya. PICTURE INA dilakukan di 5 rumah sakit di kota Bandung, Surabaya, Jakarta, Malang, dan Yogyakarta.

Karena AR belum dapat disembuhkan, pasien harus terus-menerus mengonsumsi obat. “Pengobatannya mirip dengan penyakit hipertensi atau diabetes yang harus rutin minum obat untuk mencegah komplikasi. Kalau obat dihentikan penyakitnya akan jalan terus,” jelas Harry.

Selain obat-obatan, yang harus dilakukan dalam mengatasi artritis rematoid adalah melakukan latihan untuk memperluas jangkauan gerakan, misalnya melalui proteksi sendi atau fisioterapi. Pembedahan juga bisa dilakukan jika artritis tidak mereda dengan obat-obatan.

Scleroderma

(sclero; keras, derma; kulit)

Scleroderma (Sklerosis Sistemik) adalah penyakit jaringan ikat kronis, umumnya digolongkan sebagai salah satu penyakit reumatik autoimun.

Scleroderma bukan penyakit menular, tidak menyebabkan infeksi, tidak bersifat kanker atau ganas, dan biasanya bukan karena keturunan.

YANG BERESIKO

Wanita lebih banyak dibandingkan pria, dengan perbandingan 9:1bisa menyerang semua usia, dari bayi sampai orang tua, namun kritis di  usia 25-55 tahun.

Faktor jenis kelamin, ras dan latar belakang etnis, bisa mempengaruhi . Scleroderma tidak diwariskan/diturunkan  langsung, namun ada peneliti merasa penyakit ini jika ada keluarga yang mempunyai riwayat penyakit reumatik.

PENYEBAB

  1. Proses autoimun
  2. Kelebihan produksi kolagen
  3. Kerusakan pembuluh darah

Gejala

Gangguan pada Kulit

  • Penebalan Kulit

Pengerasan dan penebalan pada kulit adalah dasar pemberian nama Scleroderma (“sclero: keras”).

  • Luka pada Kulit (Ulcer)

Luka/ulcer yang terjadi merupakan gejala umun dari Scleroderma Systemic. Luka terjadi pada buku-buku jari, ujung jari-jari tangan dan kaki, siku atau bagian tubuh lain dimana kulit menjadi sangat ketat/meregang.

  • Calcinosis

Kondisi ini dicirikan dengan adanya endapan kalsium di kulit, yang kadang-kadang menyakitkan. Endapan kalsium dapat terjadi tepat di bawah permukaan kulit dalam bentuk benjolan keras atau nodul. Endapan itu dapat menembus kulit, sehingga terlihat dengan mata seperti bahan putih seperti kapur, dan dapat menjadi infeksi.

  • Telangiectasia

Kelainan ini merupakan pelebaran pembuluh darah kecil di permukaan kulit, yang terlihat seperti bintik-bintik kecil merah, biasanya di jari-jari tangan, telapak tangan, wajah dan bibir. Bintik-bintik tersebut biasanya memudar jika ditekan, tapi menjadi merah lagi ketika tekanan dilepaskan.

  • Kulit Kering

Kekeringan yang berlebihan pada kulit dapat menyebabkan kerusakan kulit dan ulserasi. Untuk menjaga kulit agar tetap  lembab dan gunakan body cream, krim pelembab kulit yang mengandung lanolin atau sorbelene atau minyak zaitun. Pilih sabun yg mengandung pelembab atau sabun bayi.

  • Kulit Gatal
  • Gejala-gejala Kulit yang lain

Berkurangnya rambut di sekitar kulit yang terkena, penurunan kemampuan untuk berkeringat. Kulit kemerahan jika terkena sinar matahari. Ada peningkatan pigmen yang terlihat seperti bercak putih berbintik kecoklatan karena kulit kehilangan pigmen/zat warna (salt and paper). Rambut mengalami kerontokan.

  • Sclerodactyly dan Kontraktur Sendi

Sclerodactyly ditandai dengan kulit jari-jari tangan yang mengkilap dan ketat/tertarik. Jari-jari yang terkena sulit untuk digerakkan, dan menjadi kaku dalam posisi membungkuk atau menekuk, posisi itu disebut kontraktur atau fleksi kontraktur. Kulit yang mengeras dan kaku pada persendian dapat menyebabkan penurunan fungsi gerakan pergelangan tangan, siku dan persendian yang lain.

Latihan rentang gerak/range of motion  harus dilakukan setiap hari untuk mencegah atau memperlambat perkembangan kontraktur sendi dan menjaga supaya sendi-sendi tetap fleksibel dan membantu meningkatkan aliran darah ke jaringan.

Nyeri dan kaku pada persendian

Gejala-gejala nyeri, kaku, bengkak, disertai radang sendi seperti artritis sering terjadi pada Scleroderma. Obat anti-inflamasi/anti radang dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit pada kondisi ini.

Bengkak

Bengkak merupakan salah satu gejala khas awal Scleroderma yang muncul saat bangun tidur karena tidak aktifnya otot pada malam hari. Kulit dari jari-jari tangan terlihat padat seperti sosis, sehingga tangan sulit untuk mengepal.

Fenomena Raynaud

Fenomena Raynaud adalah gejala awal yang paling umum dari Scleroderma Systemic. Gejala ini ditemukan pada sekitar 90% pasien. Paling jelas terlihat di jari tangan, kaki, telinga, hidung dan ujung lidah. Dalam Fenomena Raynaud, pembuluh darah menyempit bila terkena suhu dingin atau kondisi emosional seperti takut/cemas/stres.

Gangguan sirkulasi darah menyebabkan perubahan warna kulit menjadi putih, memucat, hingga membiru. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah dan oksigen yang ada didalam pembuluh darah tidak lancar.

Pada kondisi ujung jari tangan dan kaki akan mengalami kesemutan, mati rasa, kebas dan dingin. Pada beberapa penderita, Fenomena Raynaud merupakan gejala yang menyakitkan.

Beberapa tindakan pencegahan , antara lain:

  1. Menghindari dingin, seperti cuaca di luar rumah/AC, menjaga suhu tubuh agar badan tetap hangat, dengan memakai jaket, sarung tangan, kaos kaki, syal, penggunaan bantal pemanas atau botol air panas di bagian belakang badan/punggung dan perlengkapan penghangat lainnya. Penting untuk melindungi tangan dengan sarung tangan ketika menyentuh makanan atau bahan-bahan yang didinginkan atau dibekukan di lemari es.
  2. Mandi dengan air hangat, menggunakan alas kaki didalam rumah, meminimalkan terkena air; menggunakan sarung tangan karet bila harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring/mencuci baju.
  3. Menghindari stress; berbagai macam teknik relaksasi terbukti efektif bagi beberapa orang dalam mengelola stress.
  4. Tidak disarankan merokok.
  5. Ketika fenomena Raynaud terjadi, melambai dalam gerakan melingkar secara hati-hati dapat membantu untuk mengembalikan sirkulasi darah. Memijat tangan dan kaki juga dapat membantu.

Fenomena Raynaud tidak terbatas pada orang dengan Scleroderma. Hal ini juga terlihat pada Lupus, Rheumatoid Artritis, dan penyakit autoimun lainnya.

Sistem Pencernaan dan Masalah Saluran Pencernaan

Bisa terjadi kelainan sistem pencernaan dan saluran pencernaan dari mulut ke anus. Kelebihan produksi kolagen adalah ciri khas Scleroderma yang dapat menyebabkan penebalan dan fibrosis (jaringan parut). Hal ini dapat menyebabkan otot menjadi lemah, dan gerakan menelan menjadi lambat secara tidak normal (dismotilitas) dalam proses pencernaan.

  • Kelainan Fungsi pada Kerongkongan

PadaScleroderma Systemic,  bisa terjadi  naiknya asam lambung dan rasa panas (mulas) karena makanan dan asam kembali ke kerongkongan. Asam ini juga dapat melukai lapisan bawah kerongkongan, yang dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan tabung.

Produksi asam lambung dalam perut dapat dikurangi dengan menghindari alkohol, makanan berlemak atau berminyak, makanan pedas, cokelat, tembakau dan kafein.

Posisi tegak setelah makan sangat membantu untuk menyimpan makanan dan asam dalam perut, atau makan dengan porsi lebih kecil dan lebih sering, tidak makan selama beberapa jam sebelum tidur, dan menaikkan kepala tempat tidur enam sampai delapan inci lebih tinggi.

  • Sulit Menelan

Gerakan makanan yang lambat secara tidak normal dan penyempitan kerongkongan dapat menyebabkan kesulitan menelan. Disarankan makan dengan perlahan dan mengunyah dengan baik.

  • Diare

Pada Scleroderma Systemic, terdapat resiko kerusakan pada otot-otot dari usus kecil (small intestine). Otot yang melemah tidak bekerja efektif untuk mendorong makanan melalui usus. Akibatnya adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan, yang menyebabkan diare.

Ada juga yang merasakan kembung, perut buncit dan rasa sakit jika usus terbentang. Efek lainnya adalah nutrisi makanan tertinggal di dalam usus dan tidak diserap ke dalam tubuh dan disebut malabsorpsi, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan secara drastis dan kelainan tinja/kotoran.

  • Konstipasi/Sembelit

Diet dengan serat yang tinggi, minum air putih setidaknya 6-8 gelas per hari, makan buah dan sayuran segar sebagai pencahar alami, dan olahraga ringan secara teratur akan membantu mengurangi sembelit.

  • Mulut, Wajah dan Gigi

Orang dengan Scleroderma akan mengalami pengencangan kulit wajah, menurunnya kemampuan membuka mulut (microstomia/mulut kecil) yang akan berpengaruh pada kebersihan mulut dan gigi. Pendekatan yang terbaik adalah  dengan cara latihan peregangan wajah dan mulut, seperti meringis, A I U E O, mengernyitkan dahi.

Perawatan gigi yang baik dan teratur dengan cara menyikat gigi dan gusi setelah makan. mengunjungi dokter gigi/dokter bedah mulut secara teratur juga penting untuk membantu mencegah kerusakan gigi.

  • Ginjal

Tanda awal keterlibatan ginjal antara lain; tekanan darah ringan (hipertensi), protein dalam urin dan kelainan tes darah.

Gejala-gejala lain yang mungkin terjadi adalah sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, sesak napas, nyeri dada, dan menjadi bingung secara mental.

Jika tidak segera diobati, krisis ginjal dapat menjadi gagal ginjal, suatu kondisi dimana ginjal kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan produk sampah dari tubuh.

Paru-paru

Pada Scleroderma, paru-paru bisa terpengaruh melalui tiga proses yang berbeda:

  • Penyakit Paru-paru Interstitial (Interstitial Lung Disease/ILD)
  • Hipertensi Arteri Paru (Pulmonary Arterial Hypertension/PAH)
  • Keterlibatan Dinding Dada

Jantung

Gejala-gejala Tidak Khusus

Orang dengan Scleroderma Systemic dapat mengalami berbagai gejala non-spesifik, termasuk kelelahan (berkisar dari ringan sampai parah atau disebut fatigue), kekurangan energi, kelemahan umum, penurunan berat badan, dan nyeri otot, sendi, atau tulang.

Gejala Scleroderma bervariasi pada tiap orang, penanganannya membutuhkan perlakuan yang berbeda-beda.

JENIS

  • Localised Scleroderma (Morphea)

Pada Scleroderma jenis ini kulit tubuh mengalami penebalan, terlihat mengkilap, licin seperti lilin dan berwarna kemerahan atau kecoklatan. Perubahan ini biasanya hanya ditemukan di beberapa bagian tubuh, dan jarang menyebar di tempat lain. Penebalan-penebalan ini bisa membesar atau mengecil, dan sering menghilang secara spontan. Morphea biasanya muncul pada rentan usia antara 20-50 tahun, tetapi juga dapat menyerang anak-anak. Orang dengan Morphea tidak memiliki gejala Raynaud dan ogan interbalnya sangat jarang ada yang terkena. Orang dengan Morphea jarang menjadi Scleroderma Sistemik.

  • Linear Morphea

adalah bentuk Scleroderma Lokal yang gejalanya dimulai dari kulit, kulit seperti mengandung lilin pada lengan, kaki atau pada dahi. Kadang-kadang berbentuk seperti lipatan panjang di kepala atau leher, disebut sebagai “en coup de sabre” karena kemiripannya dengan sayatan atau luka karena pedang. Scleroderma Linier cenderung melibatkan lapisan kulit yang lebih dalam dan kadang-kadang membatasi pergerakan sendi yang terletak di bawah kulit yang terkena. Scleroderma Linier biasanya berkembang pada masa kecil. Pada anak-anak, dan dapat berpengaruh pada pertumbuhan anggota tubuh yang terkena.

  • Scleroderma Sistemik (Systemic Sclerosis)

Scleroderma Sistemik dapat menyerang kulit, pembuluh darah, otot, persendian, kerongkongan, saluran pencernaan (lambung dan usus), paru-paru, ginjal, jantung dan organ internal lainnya. Jaringan yang terkena menjadi keras dan berserat, menyebabkan fungsi dari organ-organ tersebut menjadi menurun.

Ada dua pola utama yang diketahui dapat menyebabkan, membatasi atau menambah parah penyakit. Berdasarkan luas kulit yang terkena, penyakit ini dibagi menjadi dua kelompok. Secara umum, kulit yang terkena pada Scleroderma dimulai pada jari-jari tangan dan menyebar ke lengan. Sangat umum terjadi penebalan kulit wajah dan kaki.

  1. Scleroderma Terbatas (Limited Scleroderma)

Limited Scleroderma biasanya menyebabkan Fenomena Raynaud and pengerasan kulit pada tangan. Terjadi perubahan pada kulit wajah, kulit di lengan bawah dan tungkai bawah.

CREST adalah nama lain yang digunakan untuk menggambarkan subkelompok orang dengan Scleroderma. CREST adalah singkatan untuk kombinasi klinis Calcinosis, fenomena Raynaud, masalah-masalah dengan Esofagus,Sclerodactyly (jari-jari kaku) dan Telangiectasia (pembuluh darah kecil merah melebar pada kulit wajah atau tangan).Kebanyakan pasien CREST mempunyai Scleroderma Terbatas.

2. Scleroderma Menyebar (Diffuse Scleroderma)

Diffuse Scleroderma mempengaruhi kulit tidak hanya pada tangan dan lengan, tetapi juga kulit seluruh badan. Diffuse Scleroderma berpotensi mempengaruhi organ dan jaringan tubuh yang lain. Jenis Scleroderma ini sering memerlukan perawatan lebih intensif dan beberapa pasien karena tipe ini memiliki gangguan yang serius.

Diffuse Scleroderma umumnya memiliki gejala awal cukup cepat, penebalan kulit terjadi dalam beberapa bulan. Namun, penebalan kulit dapat kembali setelah beberapa tahun dengan sedikit kerusakan organ dalam jangka panjang.

Pengobatan

Diagnosis yang cepat, tepat, dan pengobatan oleh dokter spesialis yang tepat akan meminimalkan gejala-gejala Scleroderma dan mengurangi kerusakan yang irreversible/tidak bisa disembuhkan.

TES LAB

Anti-nuclear Antibody (ANA) dalam darah.

Bagaimana Jika Pengobatan Dengan Keto ?

Sejauh saya membaca, saya masih percaya akan kedua penyakit ini harus melalui jalur medis, karena banyak hal yang harus dilakukan pengecekannya dan jika tidak cepat ditangani akan mengakibatkan keluhan penyakit lainnya yang tentunya akan menyiksa tubuh .

Mungkin pembaca kiranya ada yang ingin menambahkan jika memang penyakit ini bisa disembuhkan dengan jalan terapi keto.

Ref :

Beranda

/lifestyle.kompas.com “Artritis Rematoid, Bukan Rematik Biasa”

About adminboghai

Penulis di www.boghaisan.com. Hobi mencoba tempat jajan baru dan enak, traveling, cat lover, sesekali menyanyi di smule @uci_26. Email : boghaisan@gmail.com

View all posts by adminboghai →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *