Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis

Sejak tiga hari lalu menurut tetangga sebelahnya, bapak tua itu selalu demam meriang, keluar keringat tanpa sebab, merasakan nyeri dada, nafsu makan menurun, yang berdampak pada berat badannya yang sekarang badannya terlihat lebih kecil dari sebelumnya, dan batuk yang terkadang berdahak. Setelah dibawa ke Puskesmas terdekat, bapak Ali yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu divonis menderita Tuberkolosis (TB) setelah melalui pemeriksaan.

TB atau TBC adalah penyakit yang menular langsung, akibat kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) dan bisa sebabkan kematian jika tidak segera diobati. Penyakit ini bisa  menyerang usia berapapun  terutama usia produktif (15-50 tahun) dan anak-anak, namun dapat disembuhkan. TB bisa menyerang organ paru, tulang, kelenjar, kulit dan lainnya.

Penularannya pun sangat mudah yaitu melalui udara, saat pasien TB bicara, batuk, tertawa, bersin atau menyanyi. Siapapun bisa terkena tanpa terkecuali, termasuk saya dan anda tentunya. Melalui percikan dahaknya, kontak erat, tinggal di daerah padat penduduk, bekerja dengan bahan kimia, daya tahan tubuh rendah seperti HIV/AIDS, usia lanjut, anak dan orang dengan gizi buruk memudahkan penularan TBC. Namun hanya 10% yang terinfeksi TBC menjadi sakit TBC.

Jalankan perilaku hidup bersih dan sehat karena bakteri TB senang tempat lembab, gelap dan tertutup dan bisa bertahan sampai beberapa bulan, karena itu kita harus sering membuka jendela agar udara dan sinar ultraviolet  matahari masuk ke dalam rumah agar si kuman mati, menjemur alat tidur,konsumsi makanan bergizi, tidak merokok dan minuman alkohol dan olahraga teratur.

Saat divonis terkena TB, janganlah merasa akhir dari dunia, konsumsi obat TB secara lengkap dan teratur sampai sembuh, menutup mulut saat bersin dan batuk, dan  tidak membuang dahak sembarangan (buang di tempat tertutup dan khusus).

Melalui pemeriksaan dahak, rotgen, dan tes cepat molekuler bisa segera terdeteksi TB dalam waktu 90 menit. Jangan panik, TB dapat sembuh dengan mengkonsumsi obat-obatan yang gratis disediakan pusat layanan kesehatan terdekat selama 6-8 bulan. Tahap awal yaitu mengkonsumsi obat setiap harinya selama 2-3 bulan, dan tahap selanjutnya adalah 3 kali seminggu selama 4-5 bulan.

Selama pengobatan kita harus mengikutinya sampai selesai, karena jika tidak si kuman TB akan menjadi kebal. Akibatnya kita tidak sembuh, bertambah parah, bisa berujung pada kematian  dan tentunya bisa menularkannya pada orang lain. Pengobatanpun akan menjadi semakin lama yaitu 2 tahun, dan tentunya biayanya bisa berlipat-lipat.

Siapapun bisa terkena TB, karena itu budayakan etiket saat batuk ; gunakan masker, tutup hidung dan mulut menggunakan lengan atau tisu/saputangan, segera buang tisu yang habis dipakai, dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Tingginya penderita TB di Indonesia setiap tahunnya diakibatkan karena banyaknya yang belum melapor, munculnya TB kebal obat karena bosan akibat lamanya pengobatan dan akhirnya tidak patuh saat minum obat.

19 Maret 2018 lalu, Kemenkes RI memperingati Hari TB sedunia yang diperingati setiap 24 Maret dengan mengadakan Loka Karya Bloggers “Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat” menghadirkan Dr. Anung Sugihantono, M.Kes Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Pandu Riono Komite Ahli Penanggulangan Tuberkulosis dan dr. Asik, MPPM Kepala Subdit Tuberkulosis Kemenkes RI.

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI

 

dr. Pandu Riono Komite Ahli Penanggulangan Tuberkulosis

Penderita TB dapat menularkan sampai 10-15 orang pertahun, karena itu kita harus tanggap dan membantu edukasi mengenai Penyakit Tuberkulosis agar tidak semakin banyak penyebarannya.

Indonesia Bebas TB di 2030 akan tercapai jika semakin kuatnya semua layanan kesehatan dan terintegrasi, dukungan kepemipinan nasional dan lokal, komitmen pemerintah pusat dan daerah, meningkatkan akses layanan kesehatan, memetakan layanan TB berbasis wilayah, memperkuat layanan diagnostik, pengobatan, kepatuhan minum obat dan memperhatikan pasien TB dan keluarganya.

Pak Edi, mantan penderita TB yang sudah sehat dan memperoleh sertifikat sebagai tanda Bebas TB. Dok : @helenamantra

Jangan lupa ajak ke layanan kesehatan jika melihat kemungkinan penderita TB demi  suksesnya aksi “Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC).

Dalam kegiatan ini, Kemenkes RI juga mengadakan workshop Menulis Kreatif Untuk Konten Blog oleh Kang Arul yang bisa dibaca disini, yang sangat bermanfaat khususnya untuk saya pribadi.

Dok : Wardah Fajri

 

TB Indonesia

www.tbindonesia.or.id

Twitter : @TBIndonesia

FP PB : TB Indonesia

9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *