Peduli TB Mulai Dari Diri Sendiri

Peringatan hari TB sedunia memang telah berakhir 24 Maret 2018 lalu, namun sebenarnya peringatan hari TB itu seharusnya setiap hari ujar Dr.dr. Erlina Burhan MSc. Sp. P (K) di Media Gathering “Peduli Kita Peduli TBC” yang diadakan di Tartine Cafe, Fx Jakarta. Acara ini juga menghadirkan Ulwiyah (PETA), Tutugraff (Mural Artist), Vino Bastian dan Reza Rahadian.

Acara dibuka oleh drg. Mariani Reksoprodjo, Executive Secretary Forum Stop TB Partnersip Indonesia yang menyampaikan tujuan kampanye “Peduli Kita Peduli TBC” ini dibuat yaitu membuat masyarakat Indonesia lebih peduli terhadap pencegahan TBC di Indonesia, berani memeriksakan diri jika mengalami gejala TBC, tidak menganggap TBC itu menakutkan karena TB bisa disembuhkan jika ditangani dengan tepat.

Kampanye “Peduli Kita Peduli TBC” merupakan kampanye yang digagas oleh U.S Agency for International Development (USAID) , Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) dan pemerhati TB sejak Januari 2018. Kampanye ini diadakan di area Car Free Day (25/3) dengan menghadirkan Live Art Mural, TOSS TB Flash Mob, dan Deklarasi Peduli TBC.

TB ditemukan oleh Dr. Robert Koch pada 1882, yang disebabkan karena kuman Mycobacterium Tuberculosis. TB adala penyakit menular, bukan keturunan, kutukn atau guna-guna, pengobatannya gratis, dan bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi obat-obatan Rifampsisn, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambunol selama 6 bulan.

Namun jika pengobatannya tidak tuntas, tidak teratur, dosis tidak tepat, maka kumannya akan bermutasi menjadi kuman yang kebal. Di Indonesia sendiri 100.000 orang pertahun meninggal karena TB, dan Indonesia menjadi negara ke 2 setelah India yang memiliki banyak jumlah penderitanya.

Saat kita mengalami batuk terus menerus dan telah lebih dari 2 minggu, maka kita harus datang ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk memeriksakan diri.

TB itu bukan hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bagian lainnya seperti kelenjar getah bening, selaput otak, usus, kulit, tulang, saluran kemih, reproduksi, tenggorokan dan lainnya.

Gejalanya batu berdahak lebih kurang 2 minggu, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada, nafsu makan berkurang, berat badan menurun dan menjadi kurus, demam namun tidak terlalu tinggi, dan keringat di malam hari walaupun tidak beraktivitas.

Saat pasien TB batuk (0-3500), bersin (4500-1.000.000 kuman), bicara (0-200 kuman) atau meludah kuman-kuman TB dalam paru-paru akan menyebarkan ke udara.

TB dalam 1 tahun , 1 orang penderita TB dapat menularkan penyakitnya ke 10-15 orang disekitarnya dan perlu kita ketahui TB tidak menular melalui makanan, pakaian, gelas atau piring.

Penyakit TB harus dilakukan pemeriksaan daak dengan menggunakan mikroskop, dan foto toraks untuk melihat luasnya paru yang terkena.

Pengobatan bisa dilakukan di Puskesmas, Klinik Rumah Sakit, Praktek Dokter Umum, Dokter Ahli Paru atau Penyakit Dalam.

Pengobatan TB dilakukakan untuk menyembuhkan pasien dan memperbaiki kualitas hidup dan produktivitas, mencegah kematian akibat TB aktif, cegah kekambuhan, cegah penularan ke orang lain dan mencegah berkembangnya dan transmisi resistensi obat.

Obat TB diminum 6-8 bulan, teratur sampai dinyatakan sembuh. 2 bulan pertama 2-5 tablet sekaligus diminum setiap hari, 4 bulan berikutnya obat diminum sekaligus seminggu 3 kali , dan obat lepasan diminum setiap hari.

Tidak ada nafsu makan, mual, sakit perut, nyeri sendi, kesemutan terbakar di kaki, adala efek samping ringan saat konsumsi obat TB. Gatal , kemeraan di kulit, gangguan keseimbangan, pengelihatan, kulit kuning, tanpa penyebab lain adalah efek samping yang harus segera ditangani ke petugas kesehatan terdekat.

Minum obat tidak patuh, akan mengakibatkan TB Resisten Obat akibatnya pengobatan akan lebih lama, dosis lebih tinggi, biaya semakin besar, kuman semakin kebal, dan menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Saat menderita TB, kita bisa kehilangan pekerjaan, pendapatan, kegiatan sekolah terganggu, dikucilkan tetangga, dan kualitas hidup menjadi berkurang.

Keluargapun bisa tertular TB, keluarga akan tidak bisa bebas bergaul dengan kita jik kita menderita TB. Akibatnya Indonesia akan memiliki tingkat kemiskinan yang semakin meningkat, dan pembangunan terganggu karena dana digunakan untuk pengobatan TB.

Saat menjalani pengobatan, pasien TB harus rajin memeriksakan diri untuk mengontrol penyakit dan memeriksakan ulang dahakk di akhir bulan ke 2, 5 dan 6 dihitung sejak mulai minum obat.

Untuk menunjang kesuksesan pasien, harus adanya PMO (Pengawas Minum Obat) untuk mengawasi dan memastikan bahwa obat TB nya diminum, mengingatkan jadwal minum obat dan kontrol.

Mulai sekarang yuk kita jalani polahidup sehat, dengan konsumsi gizi seimbang, istiraat cukup, jangan merokok, menjemur kasur agar tidak lembab, membuka jendela pada pagi dan sore agar mendapat cahaya matahari untuk mematikan kuman TB.

Jangan lupa saat batuk, tutuplah mulut dengan tisu,tutup mulut atau masker atau pangkal lengan, buang tisu dalam tenmpat sampah tertutup,cuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun beralkohol , jangan meludah di sembarang tempat, meludahla di tempat yang airnya mengalir, atau tutup dahaknya agar kuman tidak terbang ke udara, jika tempat menampung tertup campurlah dengan sabun atau karbol.

Mari kita mulai “Peduli Kita Peduli TBC” mulailah dari keluarga kita,  pesan dari nara sumber dan bintang tamu yang hadir.

 

 

 

 

 

 

Tags:,

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *